Urgensi Pembentukan Karakter Siswa melalui Pendidikan Karakter di Sekolah tidak Hanya dilakukan bagi Fullday School

Urgensi Pembentukan Karakter Siswa melalui Pendidikan Karakter di Sekolah tidak Hanya dilakukan bagi Fullday School

Disusun Oleh:
                         Rosmatul ‘Alawiyah
PGMI V-B
Guru merupakan tenaga kependidikan yang bertugas mengajar, mendidik, mengayomi siswa-siswanya dengan kompetensi yang harus dimilikinya. Selain itu, guru sebagai seorang pengajar sekaligus pendidik tentunya mempunyai peran yang sangat penting bagi siswanya dalam pembentukan karakter siswa. Walaupun tidak semuanya menjadi tanggung jawab guru, akan tetapi tugas guru dalam hal ini sangat menentukan pembentukan karakter siswa di masa depannya.
Kaitannya dengan hal tersebut, tulisan ini akan membahas mengenai bagaimana seorang guru harus memberikan pembelajaran kepada peserta didik yang nantinya akan membentuk karakter unggul bagi siswanya. Karakter yang unggul di sini akan disesuaikan dengan hasil studium general dengan tema “Efektivitas Fullday School Terhadap Pembentukan Karakter Siswa MI” yang dilakukan pada hari rabu tanggal 27 September 2017, bertempatkan di Gedung Rektorat IAIN SYEKH NURJATI CIREBON dengan narasumber Dr. H. Nurul Qomar, M.M, M.Pd. dan moderator Abdul Sholeh, M.Pd.
Menurut narasumber, ketika kita memutuskan untuk menjadi seorang guru tentunya kita harus memilki berbagai unsur yang dapat mendukung kita dalam pembelajaran kelak. Adapun motivasi menjadi guru terbagai menjadi tiga yaitu: (a) guru yang berorientasi pada material, dalam hal ini seorang guru mengukur segala sesuatu hanya berdasarkan materi saja yang pada akhirnya ia menjadi seorang guru hanya untuk mencari materi saja, untuk mencari nafkah saja tanpa adanya rasa iklhas untu memberikan pembelajaran karena semuanya diukur dengan materi; (b) guru yang berorientasi pada psikological, guru dalam hal ini hanya melakukaan tugasnya sebagai guru tanpa adanya rasa tanggumg jawab yang lebih, maksudnya ia menjadi seorang guru hanya untuk mencari jabatan saja tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya tersebut; (c) guru yang beroireintasi pada spiritual, guru dalam hal ini melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dalam meberikan pembelajaran, dan bekerja semata-mata hanya untuk ibadah. Oleh karena itu, ketika kita menjadi seorang guru hendaknya berada pada posisi ini karena dengan berorientasi pada spriritual segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah dan sebgai seorang guru juga kita hendaknya membuat Allah tersenyum dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini.
Selain hal tersebut, ketika ingin memberikan pendidikan karakter pada siswa guru tentunya harus mengetahui terlebih dahulu kiat apa saja yang harus dimiliki dan diaplikasikan oleh guru tersebut. Termasuk mempunyai multiple intelegence (kecerdasan majemuk) karena pada setia individu juga terdapat kecerdasan majemuk ini. Adapun kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner dibagi menjadi 8 yaitu: linguistik (kemampuan berbahasa), matematis (kemampuan mengolah angka, menggunakan logika), spasial (kemampuan dalam mendesain, merancang), kinestetik (kemampuan dalam mengolah jasmani), musikal (kemampuan menangani berbagai bentuk musik), interpersonal (kemampuan memahamai orang lain), intraPersonal (kemampuan memahami diri sendiri) dan naturalistik (kemampuan untuk memahami lingkungan di sekitar). Dengan adanya perubahan perdaban di era ini, sebagai guru harus mampu mempersipakan/memperbaiki kualitas dirinya dengan mengaplikasikan kecerdasan majemuk tersebut. Karena dalam hal ini kualitas guru ditentukan: 20% Hard Sklills (pengetahuan & keterampilan) dan 80% Soft Skills (Karakter).  Kaitannya denga tema kali ini, bahwa karakter diartikan sebagai tabiat, watak,  sifat-sifat kejiwaan, akhlak  atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Untuk membentuk karakter siswa di era ini, maka pemerintah membentuk Kurikulum 2013 yang merujuk pada kebutuhan masyarakat.  Dalam kurikulum 2013 ini  lebih mengutamakan ranah afektif dari siswanya (pembentukan karakter) yang tertulis jelas dalam Kompetensi Intinya. Dalam implementasinya guru harus melakukan: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Maksudnya yaitu, seorang guru harus mampu mengetahui kompetensi yang dimilikinya, guru juga harus mampu melakukan tugasnya dengan baik dan benar, dan ia juga harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat setempat yang nantinya ia juga dapat menjadi insan yang bermanfaat bagi keluarga, masayarakat, negara, dan agama.   
Untuk menjadi guru yang dapat memberikan pendidikan karkater juga kita harus mempunyai dan mengolah 4 dimensi kecerdasan yang tidak lain adalah: Spiritual Quotions (SQ), yaitu seorang guru harus mampu mengolah spiritualnya dengan baik dan mampu menerpakan nilai-nilai spiritual yang sesuai dengan ajarnnya.  Emotional Quotions (EQ), dalam hal ini guru juga harus mampu mengelola emosinya dalam suasana dan kedaan apapun tanpa harus merugikan orang lain ataupun dirinya. Adversity Quotions (AQ), guru juga harus mampu menghadapi tantangan hidupnya dengan penuh percaya diri. Dalam kecerdasan ini ada 3 tingkatan yatitu Quiter, dalam hal ini seseorang hanya puas dalam keadaannya saja tanpa mau berjuang lebih. Camper, yaitu seorang yang mau melakukan tantangan akan tetapi penuh dengan pertimbnagan dan kurang pecaya diri. Climber, dalam hal ini seorang climber tentunya memiliki kepridaian yang oenuh percaya diri dan mau menerima tantangan apapun. Sebagai contoh: ketika yang lain  melakukan di lapanag tetapi dia melakukannya di gunung. Dan kecerdasan yang terakhir yaitu Intelegence Quotions (IQ) atau kecerdasan intelektual. 4 dimensi tersebut harus dimiliki dan dipahami oleh seorang guru karena akan mengahadapi siswa yang mempunyai kecerdasan tersebut.
Kaitannya dengan fullday school, menurut narasumber tidak memberikan efek dalam  pembentukan karakter siswa, fullday school  diberlakukan kepada satuan pendidikan yang sudah terpenuhi fasilitasnya, seperti material, desain pembelajaran, dan sebagainya, adapun faktor perkembangan karakter siswa didapat dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat. Selain itu, pendidikan karakter di sekolah dapat dibentuk dari Gerakan Pramuka.
Jadi,  dapat saya simpulkan, dalam pembetukan karakter siswa tidak harus dibentuk dengan fullday school. Adapun dalam pembentukan karakter siswa di sekolah sudah seharusnya guru yang memberikannya melaui pembelajaran yang dilakukan setiap harinya. Oleh karena itu guru harus mempunyai multiple intelegence dan 4 dimensi kecerdasan  (Spritual Quotient, Emotional Quotient, Adversity Quotient, dan Intelektual Quotietnt) yang sidah dijelaskan di atas.  Menurut saya hal-hal tersebut memang sangat penting bagi kita sebagai guru yang memiliki tugas dan peran sangat penting bagi perkembangan siswanya.
Mengenai argumen penerapan fullday  school yang dikemukakan oleh narasumber, saya Kurang setuju apabila fullday school tidak meberikan dampak apapun.  Karena ketika adanya suatu kegiatan yang diseleggarakan tentunya akan meberikan dampak, baik itu dampak positif ataupun negatif. Dalam hal ini, menurut saya siswa yang  diberikan fullday school tentunya akan berbeda dengan siswa yang sekolah seperti biasanya. Ya memang, dalam realitanya, siswa fullday school akan jarang untuk bermain dan bertatap muka dnegan keluarganya. Akan tetapi, siswa tersebut tentunya akan terbiasa dengan kegiatan yang  terjadwal dan dapat mebentuk sikap disiplin mereka dalam kehidupannya, karena dalam fullday school juga diberikan bebrerapa pendidikan karakter, seperti sebelum makan membaca do’a, sholah dhuha berjama’ah. Sholat dzuhur dan ashar berjama’ah. Hal tersebut akan memberika dampak postifi bagi siswanya.  Selain itu, saya  sepenadpat dengan argumen narasumber, apabila fullday shcool itu diterapkan pada seklolah yang sudah terpenuhi fasillitasnya. Karena apabila fasilitas sudah terpenuhi, tentunya kegiatan fullday school akan berjalan dengan efektif.
Selain itu, dalam pembentukan karakter siswa, memang dapat dilakukan dengan gerakan  pramuka karena dalam pramuka ini banyak pendidikan karakter yang diterapkan. Akan tetapi, menurut saya pembentukan karakter siswa juga dapat diberikan dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Seperti marching band. Dalam hal ini, marching band dapat membentuk karakter siswa juga. Karena dalam marching band juga diterapkan kedisiplinan,  saling mengharagai, saling mengerti satu sama lain, menumbuhkan solidaritas (kebersamaan), menumbuhkan rasa percaya diri dan masih banyak lainnya.  Bentuk  kedisiplinan dalam marching band yaitu, ketika akan melakukan latihan tentunya harus tepat waktu, disiplin dalam memainkan instrumen musik agar sesuai dengan ketukan yang diberikan, dan intrumen musik yang dimainkan dapat harmonis.  Selain itu, untuk sikap saling mengerti dan saling menghargai tentunya akan didapat seperti halnya ketika memainkan istrumen musik itu sendiri, ketika latihan  tentunya tidak luput dari kesalahan, maka anggota yang salah tersebut tntunya tidak langsung dijudge kamu salah, kamu harusnya tidak seperti itu dan sebagainya. Maka, ketika hal itu diterapkan tetunya siswa juga belajar apa itu saling menghargai dan saling mengerti. Dalam hal tersebut siswa juga menumbuhkan rasa solidaritas terhadap masing-masing anggota yang lainnya seperti kebersamaan dalam berlatih, makan, dan membantu merka yang kurang paham, dan sebaginya. Dan satu lagi yang terpenting adalah tumbuhnya rasa percaya diri yang lebih. Contohnya yaitu ketika ia bermain alat musik juga harus dengan penuh percaya diri tanpa ragu-ragu karena apabila ragu musik yang dimainkan tidak akan terdengar indah dan selain itu apabila sedang tampil dalam acara tertentu mereka juga sudah biasa ditonton oleh sekian banyak orang, dalam hal ini sudah jelas mereka juga dilatih untuk lebih pecaya diri. Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa pendidikan karakter dapat dibentuk di mana saja dan kapanpun, akan tetapi peran guru, orang tua dalam hal ini sangat penting demi kemajuan karakter bagi anak-anaknya kelak.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW BOOK

PENGERTIAN, FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN/ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI MI

MAKALAH PENGARUH AKTIFITAS MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN SOSIALNYA